Hati-hati Pornografi di Rumah Kita

Standar

stop-pornografiSeorang Bunda datang ke klinik melakukan konsultasi tentang perilaku anaknya sambil menangis. Anak perempuan kecilnya, yang saat itu tidak dibawa berkunjung, berumur 7 (tujuh) tahun kepergok membuka situs porno di internet di dalam kamarnya. Karena shock Bunda yang sedih tersebut spontan berteriak dan memarahi anak perempuan kecilnya tersebut sambil menangis.

Akhirnya, tangisan itu tidak hanya keluar dari si Bunda tapi juga si anak yang mengaku membuka situs porno karena teman-temannya yang berjenis kelamin laki-laki memberitahu untuk membuka situs tersebut. Menurut Bunda, si kecil memang termasuk tomboy sehingga lebih banyak memiliki teman laki-laki daripada perempuan.

Bunda tersebut sangat tidak menyangka dengan kejadian tersebut. Selama ini ia tidak pernah membayangkan bahwa anak perempuan kecilnya akan tertarik hingga membuka situs porno dan menonton adegan yang tidak pantas untuk dilihatnya. Ia berkata bahwa saat ini ia merasa aneh dan melihat anaknya menjadi anak perempuan yang sama sekali tidak ia kenal.

Orangtua kerap terlena dan merasa bahwa masalah pornografi adalah masalah di luar keluarga mereka. Kita merasa bahwa masalah pornografi tidak akan pernah menyentuh dinding-dinding langit rumah kita.

Anak-anak kita adalah anak yang putih bersih dan polos. Sampai kemudian kita baru tersadar dan merasa asing pada anak-anak kita sendiri ketika tanpa disangka anak yang polos itu tidak sepolos yang kita kira. Mereka mulai ingin tahu masalah seks; sembunyi-sembunyi membuka situs porno atau menonton film porno.

Bunda, karena tekhnologi informasi semakin canggih dan mempermudah pula masuknya informasi yang belum layak saji untuk anak-anak kita, maka sedini mungkin mewaspadainya adalah hal yang bijaksana.

Bercapai-capailah untuk memilih mana program tayangan yang memang layak untuk ditonton buah hati kita. Tempatkan media elektronik (tv, akses internet, DVD player) di area publik sehingga anggota keluarga hanya dapat menggunakannya di area umum keluarga tersebut, misalnya di ruang keluarga, ruang audio-video terbuka, dll.

Bagi buah hati kita, bekali dengan nilai-nilai agama dan norma keluarga serta masyarakat. Ajarkan juga mereka tentang pentingnya menjaga diri mereka sendiri seusia dini. Misalnya, tubuhmu harus dijaga sehingga tidak boleh seorang pun menyentuhnya tanpa ijinmu baik oleh orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal; pada tubuhmu ada bagian-bagian yang tidak boleh diperlihatkan dan dilihat oleh orang dengan sembarangan maka tutuplah dengan pakaian yang kamu kenakan; dll. Hal-hal ini sederhana, tapi membuat mereka tahu bahwa tubuh mereka berharga dan harus mereka lindungi pula.

Bukankah kita kerap membaca berita tentang pelecehan seksual pada anak-anak yang dilakukan oleh orang asing dan orang yang dekat dengan anak. Tentu Bunda tidak pernah menginginkan itu terjadi pada buah hati kita tercinta. Salam!

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s